Sabtu, 25 Juni 2005

PAN: PENDAR MATAHARI YANG MEREDUP

Jajak Pendapat KOMPAS
Jumat, 24 Juni 2005


REGENERASI kepemimpinan dalam tubuh Partai Amanat Nasional (PAN) sejauh ini tampaknya belum banyak membangkitkan sikap optimisme publik dalam memandang masa depan partai ini. Kuatnya sosok maupun pamor kepemimpinan yang terbangun pada periode sebelumnya dan berbagai problema internal yang kini tengah dihadapi, sedikit banyak memasung kiprah keorganisasian partai ini.

KONDISI semacam inilah yang tampak, sebagaimana tergambarkan dalam berbagai penyelenggaraan jajak pendapat Kompas. Kongres ke-2 PAN di Semarang, 9-11 April 2005 lalu, yang menghasilkan pemimpin baru tampaknya belum menjadi titik balik kebangkitan citra PAN di mata publik. Citra partai yang diharapkan semakin meningkat justru akhir-akhir ini mulai menunjukkan adanya gejala penurunan. Sementara, komitmen dan daya juang yang diusung oleh jajaran pengurus baru sejauh ini pun belum banyak terlihat buahnya. Parahnya, justru potensi konflik internal yang kini lebih dominan terdengar.
Merunut masa sebelumnya, Pemilu 1999 bisa dibilang merupakan era keemasan PAN, di mana sebagai partai politik baru mampu meraih delapan persen suara (dipilih 7,5 juta pemilih). Namun, perjalanan selanjutnya tampak benar betapa sulit partai ini menambah barisan pendukung. Bahkan, pada Pemilu Legislatif 2004 lalu, perolehan suara PAN mengalami penurunan, hanya mampu mengantongi 6,44 persen (7,3 juta pemilih). Padahal di era Pemilu 2004 terjadi penambahan total sekitar 10 juta pemilih dan pengurangan jumlah partai yang berlaga dari 48 partai di tahun 1999 menjadi 24 partai saat Pemilu 2004.
Kondisi yang agak berbeda justru dialami Amien Rais, ketua umum partai ini. Meskipun di pemilu legislatif, PAN mengalami penurunan suara, Amien Rais bersama pasangannya, Siswono Yudo Husodo, justru mampu meraih 15 persen suara (17,4 juta pemilih) dalam pemilu presiden. Dari fakta ini sebenarnya dapat disimpulkan bahwa kehadiran dan peran Amien Rais di dalam PAN begitu besar. Kondisi ini sangat berbeda dengan berbagai upaya internal partai yang cenderung kurang berhasil dalam menjadikan PAN sebagai partai politik yang terbuka bagi semua kalangan, dan secara kelembagaan berupaya melepaskan diri dari persoalan figur ataupun persoalan domestik partai lainnya.
Fakta seperti ini pun ditemui dalam berbagai jajak pendapat Kompas. Jajak pendapat pascapemilu presiden yang diadakan Agustus 2004, misalnya. Meskipun Amien Rais gagal menembus putaran kedua, citra Amien Rais sendiri di mata sebagian besar konstituennya relatif positif. Hal yang sama juga diungkapkan oleh hampir separuh publik yang memilih partai lainnya.
Citra yang terbangun sebenarnya masih bertahan hingga menjelang Munas ke-2 di Semarang yang juga mengagendakan perubahan kepemimpinan partai. Saat itu, bayang-bayang PAN yang berada di balik Amien Rais rupanya masih terekam kuat di benak publik. Terbukti, pernyataan 70 persen dari keseluruhan responden menilai baiknya citra PAN. Bahkan, dalam jajak pendapat ini, tidak hanya publik pemilih partai ini saja yang memandang positif citra partai. Mereka yang mengaku bukan konstituen PAN pun menyatakan apresiasi yang tidak jauh berbeda (67,8 persen).
Jajak pendapat yang dilakukan akhir April 2005, pun semakin menegaskan kenyataan ini. Saat itu, misalnya, lebih dari 80 persen pemilih PAN beranggapan citra partai masih tetap pada jalur yang mereka inginkan. Hal yang sama juga diungkapkan oleh hampir 70 persen yang tidak memilih PAN, mereka tetap mengakui kemampuan PAN dalam menjaga kredibilitasnya.
Sayangnya, kondisi demikian tidak bertahan lama. Pertengahan Juni lalu, sekalipun masih tetap dipandang positif, namun mulai terjadi penurunan. Secara keseluruhan, separuh bagian responden saja yang kini menilai citra partai ini positif. Sementara, di mata para pendukungnya, sebanyak 77 persen yang menilai positif.
Indikasi mulai meredupnya citra partai ini tampaknya tidak lepas dari kiprah partai di saat itu. Hari-hari selepas terbentuknya kepengurusan baru, publik justru lebih banyak disodori konflik dalam lingkungan partai ini ketimbang upaya-upaya positif yang dilakukan guna mendongkrak citra partai. Tidak terelakkan, PAN pascakepemimpinan Amien Rais mulai terancam. Dua modal utama yang dimiliki, yaitu figur dan citra mulai meredup.
Kehadiran Soetrisno Bachir sebagai ketua umum partai sejauh ini tampaknya belum banyak membangkitkan optimisme konstituennya. Dilihat dari sosoknya, misalnya, baru dua pertiga bagian simpatisan partai ini yang mengenal sosok ketua umumnya. Tidak mengherankan pula jika baru 47,7 persen responden, yang mengaku sebagai pemilih PAN dalam Pemilu 2004 lalu, akan kembali memilih partai ini dalam kepemimpinan yang baru.
Bahkan, pemilih pemula, kalangan muda perkotaan yang selama ini dikenal menjadi potensi suara PAN, dalam jajak pendapat ini pun menyebar pada partai-partai lain seperti Partai Keadilan Sejahtera, Partai Demokrat, hingga PDI-P. Mencermati segenap kondisi ini, tampaknya berbagai upaya keras untuk membesarkan matahari partai harus dilakukan PAN bersama jajaran kepengurusan barunya jika dalam Pemilu 2009 nanti partai ini tidak ingin kehilangan pamor.
(TWEKI TRIARDIANTO/Litbang Kompas)

Tidak ada komentar: