Rabu, 22 Juni 2005

PARTAI GOLKAR: KENANGAN YANG MENGHANYUTKAN

Jajak Pendapat KOMPAS
Selasa, 21 Juni 2005


SETELAH sebelumnya sempat terpuruk, enam bulan di bawah kepemimpinan Jusuf Kalla citra Partai Golkar menunjukkan perkembangan positif di mata konstituennya. Upaya menarik partai ini untuk turut kembali menjadi pemegang kekuasaan negara merupakan langkah jitu yang mendapat apresiasi sebagian besar simpatisan partai ini.

KESIMPULAN demikian terungkap dari tiga kali penyelenggaraan jajak pendapat masyarakat terkait dengan kiprah Partai Golkar selama ini. Sebagaimana diketahui, di antara partai-partai politik lain di negeri ini, Golkar menunjukkan dinamika kepartaian yang tergolong fluktuatif. Setelah sebelumnya dalam kurun waktu 32 tahun eksis menjadi partai penguasa di era Orde Baru, lalu sempat terpuruk di era Reformasi, kini kembali menunjukkan kekuatan politiknya di negeri ini.
Menariknya, pada setiap segmentasi era kepemimpinan, terutama pasca-Orde Baru, kondisi internal partai ini pun menunjukkan pergumulan yang dinamis, terutama kuatnya keinginan menempatkan partai ini kembali berada di lingkungan pemegang kekuasaan penyelenggaraan negara. Dalam perkembangannya, sebagaimana yang terekam dalam berbagai jajak pendapat ini, langkah- langkah semacam ini pun kerap kali menimbulkan simpati para pemilih partai ini.
Jika dirunut, apresiasi publik rupanya mulai terjadi sejak munculnya konvensi guna menjaring calon presiden menjelang Pemilu Presiden 2004. Terbukti, citra Partai Golkar saat itu terdongkrak. Kondisi ini terungkap dari pernyataan 42 persen responden pada jajak pendapat yang dilakukan Oktober 2003. Secara khusus bagi responden, yang mengaku simpatisan Golkar, sebanyak 65 persen menyatakan positif. Publik menyambut positif atas prakarsa internal Partai Golkar yang bermaksud mencari kandidat presiden secara demokratis. Padahal, saat jajak yang dilakukan sebelum konvensi, citra positif hanya berkisar pada kisaran 20 persen.
Akan tetapi, menjelang Munas ke-7 pertengahan Desember 2004, citra positif partai mengalami penurunan. Secara keseluruhan, tidak kurang dari 31,5 persen responden menilai positif. Saat itu, di mata para simpatisan Golkar ini sendiri 62,4 persen menyatakan positif. Dari hasil jajak pendapat tersebut degradasi citra memang terjadi, tetapi tidak sampai menenggelamkan Partai Golkar dalam sikap pesimistis publik.

Apresiasi meningkat
Menurunnya citra Golkar menjelang munas tidak berlangsung lama. Munculnya Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI periode 2004-2009, sebagai Ketua Umum Golkar membuat citra politik partai ini menjadi semakin terangkat, kembali menempatkan partai ini untuk berkiprah dalam wilayah kekuasaan penyelenggaraan negara, baik di pemerintahan pusat maupun arena politik praktis daerah. Tidak heran pula, terhadap segenap kiprah partai ini dalam kepemimpinan Jusuf Kalla, enam bulan terakhir terjadi peningkatan apresiasi publik, terutama semakin menguatnya apresiasi para responden konstituen Partai Golkar terhadap partainya.
Dalam jajak pendapat kali ini, lebih dari dari tiga per empat bagian responden pemilih Golkar menyatakan apresiasi positif terhadap partainya. Tak ayal, apresiasi responden kali ini merupakan yang terbesar sepanjang penyelenggaraan jajak pendapat yang dilakukan khusus kepada partai ini.
Di sisi lain sebagian kalangan pengamat sebenarnya menyikapi secara hati-hati atas keberadaan Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Dengan jabatannya ini, Jusuf Kalla menyandang tiga atribut sekaligus, yaitu sebagai wakil presiden, ketua umum partai, dan sekaligus sebagai pengusaha. Tiga posisi yang mempunyai kepentingan berbeda ini tak urung menjadi pertanyaan, terutama saat memosisikan diri dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa. Tidak mengherankan dengan masuknya Jusuf Kalla, Partai Golkar memiliki risiko yang demikian besar. Di satu pihak, maju atau mundurnya partai akan selalu terkait erat dengan kedudukan Jusuf Kalla sebagai orang nomor dua di pemerintahan negeri ini. Di pihak lain, kemungkinan munculnya intervensi partai dalam tubuh pemerintahan turut menjadi pertimbangan publik dalam mencermati sepak terjang hingga Pemilu 2009.
Namun, begitu besarnya apresiasi publik Golkar terhadap kiprah ketua umumnya ini tentu menghapus semua keragu-raguan yang dilontarkan berbagai kalangan. Justru pertanyaan selanjutnya yang patut dikemukakan, jika Partai Golkar di bawah kepemimpinan Jusuf Kalla tergolong berhasil meningkatkan citra Golkar di mata konstituennya, akankah hal yang sama terjadi pada masyarakat umum, baik bagi mereka mereka yang bukan pemilih Golkar di masa Pemilu 2004 lalu?
Lebih jauh lagi, di bawah kepemimpinan Jusuf Kalla dan eksistensi politik partai ini yang kini kembali berada di lingkaran dalam kekuasaan penyelenggaraan negara, apakah Golkar mampu meraih simpati publik lebih luas lagi?
Menurut hasil jajak pendapat ini, loyalitas para pemilih Golkar terhadap partainya tetap tinggi. Tidak kurang sebanyak 84 persen responden yang mengaku memilih Golkar pada pemilu lalu akan tetap memilih partai ini seandainya pemilu dilakukan saat ini. Saat ini proporsi demikian tergolong sangat tinggi, menyerupai loyalitas responden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan melebihi loyalitas yang ditunjukkan oleh partai-partai politik lainnya.
Proporsi demikian pun tergolong tertinggi jika dibandingkan dengan hasil-hasil jajak pendapat sebelumnya terhadap konstituen partai ini. Namun, kondisi yang agak berbeda terjadi jika dilihat dari jenjang usia responden. Secara keseluruhan, mereka yang tergolong sebagai kalangan muda, berusia di bawah 20 tahun, hanya 8,5 persen saja yang mengaku berminat memilih partai ini. Bagian terbesar, 91,5 persen, kalangan usia muda menyatakan masih enggan memilih Golkar.
Tampaknya, kepemimpinan Golkar saat ini baru berhasil mengangkat citranya di mata konstituennya, belum banyak merambat pada publik secara luas, terutama kalangan muda.
(TWEKI TRIARDIANTO/ Litbang Kompas)

Tidak ada komentar: