Jumat, 08 April 2005

Jajak Pendapat "Kompas" - Menimbang Sosok Sang Ketua

KOMPAS, 07 Apr 2005
Jajak Pendapat "Kompas"
MENIMBANG SOSOK SANG KETUA


Regenerasi di dalam tubuh partai politik memang menjadi diskursus yang tak pernah lekang oleh waktu. Regenerasi dalam bentuk pergantian kepemimpinan, misalnya, tampaknya merupakan persoalan yang kini tidak hanya memasung partai-partai politik berciri tradisional, tetapi mereka yang dianggap mengusung nilai modernitas pun tidak luput dalam persoalan ini.

Kondisi semacam ini pula yang terjadi dalam tubuh Partai Amanat Nasional (PAN). Niat Ketua Umum PAN Amien Rais, untuk mengakhiri jabatannya dan menyatakan tidak akan mencalonkan kembali sebagai Ketua Umum PAN, tampaknya menimbulkan keraguan di benak sebagian pengurus di tingkat wilayah maupun daerah guna mendapatkan sosok penggantinya.
Kesimpulan ini diperoleh dari pengumpulan pendapat yang dilakukan Litbang Kompas terhadap pimpinan wilayah dan daerah PAN yang diadakan padaa 4-5 April 2005. Dari total 33 pimpinan wilayah dan 415 pimpinan daerah, berhasil diwawancarai sebanyak 228 pimpinan PAN yang terdiri dari 30 Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan 198 Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD).
Sebagaimana diketahui, secara kelembagaan, pelaksanaan Kongres Ke-2 PAN di Semarang, Jawa Tengah, pada 7-10 April 2005 menjadi pertaruhan bagi eksistensi partai ini sendiri dalam kancah perpolitikan kontemporer yang selalu berkembang.
Karena ketergantungan PAN terhadap keberadaan Amien Rais dan Muhammadiyah sebagai salah satu fondasi rupanya tidak hanya mendulang aspek positif, namun di sisi lain juga menyisakan persoalan mengenai sosok yang pantas menggantikan ketua umum partai ini.
Jika selama ini PDI-P diidentikkan dengan Megawati Soekarnoputri, tampaknya hal yang sama juga menimpa PAN yang tak lepas dengan keberadaan Amien Rais. Dalam pandangan sebagian Ketua DPW dan DPD, kepemimpinan Amien Rais memang terbilang sukses. Hal ini terlihat dari penilaian mayoritas responden yang menunjukkan kepuasannya.
Lebih jauh lagi, kemampuan Amien Rais dalam menyerap aspirasi anggota maupun pengurus yang ada di setiap daerah dinilai lebih dari tiga perempat bagian responden sebagai nilai lebih, yang mungkin jarang dimiliki oleh kandidat yang akan bertarung dalam perebutan kursi ketua umum.
Oleh karena itu, begitu kuatnya apresiasi pengurus partai ini kepada ketua umum mereka, justru memunculkan kebimbangan mereka terhadap kemunculan beberapa kandidat ketua umum. Beberapa nama, seperti Soetrisno Bachir, Fuad Bawazier, Hatta Rajasa, Didik J Rachbini, dan beberapa nama tokoh PAN lainnya memang menjadi beberapa alternatif yang dianggap mampu memimpin partai ini.
Namun, pernyataan 34,7 persen responden yang belum memutuskan pilihannya menunjukkan masih besarnya kebimbangan sebagian besar Ketua DPW dan DPD terhadap tokoh yang akan memimpin mereka. Terlebih, sebagian besar responden (53,1 persen) menilai kualitas kandidat tersebut belum dapat disamakan dengan Amien Rais. Sementara ungkapan optimistis datang dari sekitar 30 persen responden yang menilai sebagian kandidat mempunyai kualitas yang setara dengan Amien Rais.
Selain persoalan kandidat, rupanya sebagian pengurus partai yang berhasil diwawancarai dalam survei ini pun menunjukkan betapa peliknya orientasi partai ini di masa mendatang, terutama mengenai statusnya sebagai partai yang terbuka bagi semua kalangan ataukah yang memfokuskan pada aliran tertentu. Memang, dalam jajak pendapat ini 86,4 persen responden mengakui PAN sebagai partai yang terbuka bagi semua kalangan.
Namun, citra Muhammadiyah yang melekat juga tidak dapat dikesampingkan. Hal ini terbukti dari pernyataan 44,3 persen responden yang menginginkan ketua umum yang baru berasal dari kalangan Muhammadiyah. Hanya 28,9 persen yang lebih memilih ketua umum yang baru terbuka dari luar Muhammadiyah.
(Tweki Triardianto/ Litbang Kompas)

Tidak ada komentar: