KOMPAS, 05 Feb 2005
Jajak Pendapat "Kompas"
POLA KONSUMSI DALAM JEJARING KREDIT
MUDAHNYA perbankan mengucurkan kredit kepada konsumen turut berperan dalam menyebabkan tingginya tingkat konsumsi masyarakat. Masyarakat tidak perlu punya uang tunai untuk bisa membawa pulang televisi atau pemutar DVD terbaru. Cukup fotokopi KTP, kartu kredit dan isi formulir, suasana rumah menjadi meriah dan hidup bisa dilakoni dengan lebih bergengsi.
BEGITU pula kalau ingin bergaya dengan kendaraan terbaru, tinggal jual mobil lama untuk uang muka, maka dalam seminggu telah ada mobil atau motor kinclong dengan deru mesin yang lebih halus. Hidup bagai berkawan dengan Jin Kartubi dalam lakon Lampu Ajaib, tinggal gesek, semua keinginan akan datang dengan seketika.
Mudahnya kepemilikan barang dengan cara kredit sebenarnya tak lepas dari dikeluarkannya Paket Kebijakan Perbankan Nasional yang mengarah pada pembenahan sektor riil melalui peningkatan konsumsi masyarakat. Upaya pemerintah dalam memperkuat struktur ekonomi dengan strategi lebih memperkokoh sektor perbankan rupanya bak gayung bersambut.
Hal ini ditandai dengan begitu mudahnya perbankan nasional mengucurkan berbagai jenis kredit. Mulai dari kredit modal kerja, kredit konsumsi, hingga kredit investasi yang berdampak positif terhadap geliat ekonomi riil. Berdasarkan data Bank Indonesia, posisi kredit perbankan per November 2004 mencapai Rp 531,69 triliun. Dibandingkan setahun sebelumnya, pertumbuhan kredit meningkat pesat sebesar Rp 93,75 triliun.
Dilihat dari komposisinya, kredit modal kerja sebanyak Rp 267,69 triliun, kredit konsumsi senilai Rp 146,04 triliun, sedangkan kredit investasi mencapai Rp 112,95 triliun. Meskipun berada di posisi dua terbesar, kredit konsumsi menjadi salah satu pijakan bagi bank-bank untuk meraih keuntungan. Terbukti dengan kian berlombanya perbankan nasional memberi kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh kredit konsumsi, baik kredit kepemilikan rumah, kepemilikan mobil, maupun kredit-kredit yang bersifat konsumtif lainnya.
Adapun kredit modal kerja itu sendiri, walaupun berada di urutan teratas, kinerjanya dalam menyerap pasar cenderung kalah dibandingkan dengan kredit konsumsi. Dari sekitar 44 juta usaha mikro, kecil, dan menengah, hanya sekitar 10 persen atau 4,4 juta pengusaha mikro yang mendapatkan pembiayaan modal kerja.
Ketimpangan dalam penyaluran kredit ini tak lepas dari pemecahan sektor finansial yang dilakukan pemerintah melalui kebijakan liberalisasi sektor perbankan yang bertujuan untuk menopang sektor riil. Tidaklah mengherankan jika sikap konsumtif masyarakat semakin menjulang. Kenyataan ini diakui pula oleh lebih dari separuh responden dalam mengungkapkan berbagai pola konsumsi yang dijalaninya selama satu tahun terakhir ini.
RELATIF tingginya pola konsumsi publik selama setahun ini bisa juga merupakan indikasi dari membaiknya tingkat ekonomi masyarakat. Kondisi ini terungkap dari pernyataan separuh lebih responden yang merasakan tetap baiknya kondisi ekonomi diri maupun keluarganya.
Sementara 16 responden menyatakan semakin memburuknya tingkat ekonomi diri atau keluarganya, hal yang sangat berbeda dialami oleh 25 persen responden yang justru menyatakan semakin membaiknya kondisi ekonomi mereka.
Dilihat dari pola konsumsi publik, ditemukan tiga kategori pembelian yang sangat kental dengan nuansa konsumtif. Yang pertama, berkaitan dengan kebutuhan primer, yaitu kebutuhan makanan sehari-hari. Pola konsumsi responden menunjukkan gejala meningkat. Hal ini diakui oleh separuh responden yang menyatakan mengalami peningkatan baik kualitas maupun kuantitas dalam membeli makanan kebutuhan pokok.
Meskipun separuh responden lainnya menyatakan tidak ada peningkatan, adanya kecenderungan pola mengonsumsi kebutuhan sehari-hari yang relatif tetap menunjukkan adanya upaya responden untuk menstabilkan pola dalam memenuhi kebutuhan makanan.
Begitu pula dalam pembelian rumah baru atau membangun/memperbaiki rumah. Sebagai kebutuhan yang mendasar, hampir 30 persen responden telah melakukan kegiatan yang memerlukan dana berlebih ini. Hal ini setidaknya terjadi di Makassar. Separuh responden di kota ini menyatakan telah mempersiapkan keuangan pribadi untuk membeli rumah.
Sementara, untuk kebutuhan publik yang bersifat sekunder, mengindikasikan menggeliatnya perekonomian 2005. Dalam memenuhi kebutuhan barang elektronik, misalnya satu dari tiga responden menyatakan mengalami peningkatan, baik kualitas maupun kuantitasnya.
Bahkan hampir separuh responden di Kota Banjarmasin mengakui pembelian kebutuhan yang cenderung sekunder ini berubah menjadi kebutuhan yang primer.
Tidak hanya itu, dalam pembelian kendaraan bermotor, baik kendaraan beroda empat maupun beroda dua, 28 persen responden dalam setahun terakhir telah mengalami peningkatan dalam membeli alat transportasi.
TERLEPAS dari semakin membaik atau semakin menurunnya tingkat ekonomi, kecenderungan kian terpolanya sikap konsumtif publik merupakan dua sisi pisau yang berpengaruh terhadap upaya pemerintah dalam memperbaiki perekonomian nasional. Di satu sisi, sektor riil akan semakin semarak, tetapi di sisi lain ada kekhawatiran terulangnya krisis perbankan jika tanpa didukung sendi-sendi ekonomi, khususnya modal yang kuat di kalangan perbankan.
Kondisi bisa dilihat dari melonjaknya realisasi kredit baru yang mencapai 290 persen hingga November 2004. Melonjaknya permintaan masyarakat terhadap barang-barang konsumsi, seperti kendaraan bermotor, yang menjadi ceruk pasar baru bagi dunia perbankan selama tiga tahun belakangan ini, rupanya dipandang sebagai lahan potensial untuk meningkatkan keuntungan.
Hal ini terungkap dari pernyataan hampir 40 persen responden yang telah membeli kendaraan bermotor dengan cara kredit. Sikap konsumtif publik pun tercermin dari pernyataan 84 persen responden bahwa pembelian itu sebagai kebutuhan. Hanya tujuh persen responden yang mengakui membeli kendaraan bermotor untuk investasi.
Hal yang sama tercermin pula dengan pola konsumsi publik dalam membeli barang elektronik atau perabot rumah tangga. Baik pada pembelian yang dilakukan secara tunai maupun kredit, 80 persen responden masih beranggapan kedua produk tersebut sebagai kebutuhan. Bisa jadi, tingginya tingkat pembelian ini didukung oleh pola kegiatan rekreatif publik yang semakin meningkat.
Bepergian ke tempat-tempat belanja atau mal, misalnya, adalah satu kegiatan yang cenderung memengaruhi masyarakat untuk berbelanja. Setidaknya hal ini terekam dari pernyataan hampir separuh responden yang mengakui semakin meningkatnya kegiatan mengunjungi mal-mal dan pusat perbelanjaan.
Sedangkan terkait dengan upaya publik dalam berinvestasi, terekam adanya kecenderungan pola berinvestasi yang progresif. Dukungan perbankan nasional yang memudahkan dalam menggulirkan kredit modal kerja rupanya berpengaruh positif terhadap investasi yang dilakukan publik. Terbukti dari pernyataan 32 persen melakukan usaha atau menambah modal usaha yang sudah dijalankan.
Walaupun sebagian besar masih berpegang teguh pada pola investasi yang cenderung konvensional, yaitu menabung di bank, kian beragamnya fungsi tabungan menjadi satu daya tarik yang tidak dimiliki bentuk-bentuk investasi lain. Tak heran jika 58 persen responden menyatakan tabungan di bank sebagai salah satu bentuk investasi yang wajib dilakukan.
Meskipun demikian, dari berbagai investasi yang dilakukan, ditemukan adanya perubahan cara pandang publik dalam menyiasati kehidupan dirinya di masa mendatang. Walaupun 24 persen responden mengakui diri atau keluarganya membeli barang berharga dalam bentuk emas atau perhiasan lainnya, pernyataan 27 persen responden yang telah membeli produk-produk asuransi menunjukkan kian majunya cara pandang publik dalam menatap masa depan.
(TWEKI TRIARDIANTO/Litbang Kompas)
Minggu, 06 Februari 2005
Jajak Pendapat "Kompas" - Pola Konsumsi Dalam Jejaring Kredit
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar