Jajak Pendapat KOMPAS
Jumat, 20 Mei 2005
Sebagaimana kebanyakan partai lain, ketergantungan pada sosok seorang tokoh juga sangat kental terasa pada Partai Demokrat. Meskipun bukan sebagai ketua umum, kedudukan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pendiri Partai Demokrat ternyata sangat sentral. Partai Demokrat nyaris identik dengan sosok yang kini menjadi Presiden Republik Indonesia ini. Kondisi tersebut menyebabkan keberadaan partai ini sulit dibayangkan tanpa kehadirannya.
Kesimpulan yang diperoleh dari pengumpulan pendapat yang dilakukan Kompas terhadap 200 pengurus Partai Demokrat tingkat provinsi dan kota/kabupaten di seluruh Indonesia, yang berjumlah 33 Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan 420 Dewan Perwakilan Cabang (DPC), menunjukkan bahwa keberadaan Susilo Bambang Yudhoyono sangat menentukan dalam langkah partai ini ke depan.
Keberhasilan Partai Demokrat yang dapat menunjukkan prestasinya sebagai partai baru pada Pemilu 2004 lalu, dengan memperoleh 7,45 persen suara, membuat pengurus partai kian mengagungkan sang tokoh. Hal ini terbukti dari pernyataan mayoritas responden yang menilai Susilo Bambang Yudhoyono sebagai tulang punggung yang tidak bisa dilepaskan dari Partai Demokrat.
Tidak mengherankan jika dari pengurus di tingkat DPD dan DPC Partai Demokrat yang berhasil diwawancarai, 63 persen di antaranya beranggapan masih diperlukannya keterlibatan Yudhoyono baik dalam proses pemilihan ketua umum maupun pembentukan pengurus yang baru.
Munculnya keinginan supaya Yudhoyono turut berperan dalam pemilihan pengurus dalam kongres yang diadakan pada 20-23 Mei mendatang di Denpasar menunjukkan ketergantungan yang tinggi pada sosoknya, sekaligus mencerminkan kekhawatiran dari pengurus daerah akan munculnya konflik internal yang berujung pada perpecahan partai.
Realitas partai politik di Indonesia memang unik. Dilihat dari sisi ideologis, hampir semua partai politik yang dianggap pluralis maupun partai politik aliran masih belum mampu memisahkan diri dengan tokoh penggagasnya. Semua hal yang berkaitan dengan jatuh bangunnya partai akan berbanding lurus dengan naik turunnya pamor tokoh yang berpengaruh. Oleh karena itu, kemampuan partai politik dalam meredam aneka konflik internal selalu dipayungi oleh tokoh tersebut.
Begitu besarnya eksistensi Yudhoyono dalam tubuh Partai Demokrat juga terungkap dari penilaian para pengurus dalam mencermati para tokoh yang mencalonkan diri sebagai ketua umum. Siapa pun yang terpilih tampaknya tidak menjadi faktor penentu bagi popularitas partai. Meskipun sejumlah nama calon ketua umum telah digulirkan, secara umum responden yang merupakan pengurus partai tidak menganggap calon-calon yang ada sebagai faktor yang punya potensi memperbesar kekuatan Partai Demokrat.
Mereka lebih percaya perkembangan partai ini lebih ditentukan oleh kiprah Yudhoyono dalam perpolitikan nasional. Responden juga tidak terlalu memedulikan latar belakang profesi calon ketua umumnya. Terbukti dengan besarnya proporsi responden (55 persen) yang tidak ambil pusing terhadap latar belakang calon, apakah dari kalangan akademisi, militer, atau nonmiliter lainnya. Namun yang jelas, 86 persen responden mensyaratkan ketua umum terpilih harus dari kalangan internal partai.
Tampaknya pengurus dari daerah masih menunggu "isyarat" yang diberikan oleh Yudhoyono dalam menentukan siapa kandidat yang direstui. Terbukti dari besarnya (52,5 persen) responden pengurus partai ini yang menyatakan belum menentukan pilihannya. Meskipun hingga saat ini nama Ketua Umum Partai Demokrat Subur Budhisantoso masih tetap menjadi pilihan yang tertinggi dibandingkan dengan pilihan terhadap calon-calon lainnya, namun banyaknya pengurus yang belum menentukan pilihan menunjukkan kehati-hatian pengurus untuk bersikap.
(TWEKI TRIARDIANTO/Litbang Kompas)
Sabtu, 21 Mei 2005
MENJALANKAN DEMOKRASI DENGAN ISYARAT
Label:
Partai Politik
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar