Jumat, 30 Maret 2001

KARTU KUNIG BAGI PETINGGI NEGERI

Jajak Pendapat KOMPAS
Selasa, 27 Maret 2001


DISADARI atau tidak, hampir dua tahun terakhir agenda perpolitikan negeri ini hanya bertumpu pada empat tokoh, yaitu Presiden Abdurrahman Wahid, Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua DPR Akbar Tandjung.

BETAPA tidak, fakta menunjukkan sikap dan perilaku para petinggi negara itu telah menguras sebagian keseharian masyarakat. Nyaris sepanjang waktu mereka disajikan tontonan pertentangan di antara keempat tokoh tersebut.
Betapa pun, kini rakyat mulai geram. Hasil jajak pendapat mengungkap hal ini. Kepada keempat tokoh diingatkan untuk tidak lagi bereksperimen dengan ambisi dan kepentingan kelompok mereka. Berikut penilaian kritis responden terhadap para pemimpin negeri ini.

Abdurrahman Wahid
MENJELANG dua tahun pemerintahannya, jajak pendapat yang dilakukan secara periodik mengungkap sikap ketidakpuasan responden terhadap Presiden Abdurrahman Wahid terus meningkat. Bila dikaji, ekspresi ketidakpuasan responden ini bertumpu pada dua persoalan, yakni sikap dan perilaku Presiden. Di sisi lain, responden menilai buruknya prestasi kerja, di mana hampir segenap kebijakan yang dikeluarkan Presiden terkesan tidak berjalan dengan baik. Tidak heran, jika sepanjang memerintah kinerja Presiden lebih banyak dinilai tidak membanggakan ketimbang sebaliknya.
Setumpuk kritik terhadap Presiden mencuat dalam jajak pendapat ini. Bagi mereka, dalam situasi bangsa yang serba tidak pasti ini, Presiden harus bersikap sebagai negarawan yang mampu mengontrol setiap tutur kata yang keluar dari mulutnya. "Omongannya yang tidak terpegang itu bisa menjadi sumber kejatuhannya," ungkap salah seorang responden. "Ketidakkonsistenan ucapan, keras kepala, dan sikap kontroversinya itu juga yang harus direm," sambut responden lainnya.
Dari sisi perilaku, sebagian responden mengingatkan Presiden agar
membenahi ketidakmampuannya dalam mengoordinasikan kerja kabinet. Berbagai kemandekan program pemerintah di berbagai departemen teknis selama ini menjadi bukti ketidakpiawaian pemimpin dalam berhadapan dengan persoalan konkret masyarakat.
Secara khusus, sorotan terhadap kebiasaan Presiden berkunjung ke luar negeri juga tidak kalah besar. Kesan mereka, kunjungan Presiden tidak banyak memberikan manfaat, hanya memanjakan ambisi yang menghamburkan-hamburkan uang negara.
Beragam kritik pedas memang bermunculan. Namun, upaya Presiden yang menjunjung tinggi nilai-nilai pluralisme di negeri ini tidak luput dari pengamatan responden. Sikap seperti ini patut dipertahankan. Bisa jadi, inilah satu-satunya sisi positif yang masih dibanggakan dari sosok Abdurrahman Wahid.

Megawati Soekarnoputri
ADA sikap ambigu pada sebagian responden ketika harus menilai. Di satu sisi, sikapnya yang terlalu banyak berdiam diri dapat dipandang positif. Sebagai bukti, ketika bangsa ini sudah terlalu banyak dijejali oleh komentar para elite negara yang saling bertentangan, tampilan sikap yang tidak mengobral komentar itu membuat simpati masyarakat tidak lekang dari dirinya.
Namun, di sisi lain, pada sebagian responden diam lebih banyak diartikan sebagai bentuk kepasifan dalam bersikap. Tampaknya sikap seperti ini justru merupakan batu sandungan. Apalagi dalam kondisi saat ini, tatkala kemampuan dan karisma kepemimpinan sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan kemelut bangsa. Tidak heran, jika 47 persen responden menganggap sikap pasif yang dipraktikkan ditafsirkan pula sebagai bentuk ketidakmampuan bertindak, ketidaktahuan apa yang harus diperbuat, atau bukti dari keengganan menyelesaikan peliknya persoalan negeri ini.
Selain sorotan terhadap sikap, sebagian responden juga menilai sosok Megawati tidak memiliki ketegasan dalam mengisi perannya di pemerintahan. Sebagian responden lainnya malah melihat kurang terjalin kerja sama harmonis antara Megawati dan Presiden Abdurrahman Wahid. Bisa jadi secara formal tampak rukun, namun sebagian responden menganggap justru sebaliknya yang kini terjadi. "Mana ada sekarang,
dwitunggal kepemimpinan keduanya sering berseberangan kok, kalau seperti itu pantas kan rakyatnya juga enggak rukun," gugat salah seorang responden.
Khusus kepada Megawati, sebagian besar responden tampaknya menaruh harap yang besar. Ketika persoalan ekonomi semakin melilit, pertikaian antarwarga kian mencekam, dan ketegangan di antara para petinggi negara tidak juga terpecahkan, di antara tokoh-tokoh lainnya, sosok Megawati masih dianggap layak untuk dijadikan tumpuan. Oleh karena itu, bagi mereka tidak ada harapan lain kecuali secepatnya berinisiatif, bertindak menyelesaikan kemelut negeri ini.

Amien Rais
SEMENJAK reformasi bergulir, sosok Amien Rais tidak lagi asing di telinga masyarakat Indonesia. Ia dikenal kritis, memiliki keberanian dalam bersikap, dan memiliki kadar intelektualitas yang tinggi. Perannya tidak dapat dikatakan kecil dalam dunia perpolitikan negeri ini. Ia pula yang turut memberikan andil kepada Abdurrahman Wahid dalam merebut takhta kepresidenan.
Hampir 18 bulan pemerintahan berjalan, sebagian masyarakat tampaknya mulai letih dengan segenap sikap dan perilaku Amien Rais. Terbukti, berbagai komentar dan penilaian minor melekat pada ketua umum PAN yang juga motor kelompok Poros Tengah ini. Dalam masalah sikap, sebanyak 25 persen responden menganggap Amien Rais kini sudah terlalu banyak melontarkan komentar. Hal demikian menjadi persoalan, mengingat materi yang dilontarkan sekali pun runtun, logis, serta piawai dalam pemilihan kata, acap kali bermuatan perseteruan.
Dalam situasi bangsa seperti ini, sebagian responden juga menginginkan agar Amien Rais tidak menonjolkan sikap ambisius. "Kalau teriak terus, ambisinya lebih dominan ketimbang niat baiknya," sahut salah seorang responden.
Begitu pun dalam tindakan, sebagian responden berharap Amien Rais konsisten terhadap segenap perilakunya terdahulu. Terhadap keberadaan posisi Presiden Abdurrahman Wahid, misalnya, sebagian responden mempertanyakan sikapnya yang jelas-jelas menggoyang kepemimpinan Presiden. "Dulu habis-habisan mendukung, kini malah Gus Dur mau diturunkan, sikap macam mana ini?" keluh seorang responden.
Lepas dari sorotan kritis masyarakat, oleh sebagian responden figur Amien Rais tetap dianggap sebagai aset berharga yang dimiliki bangsa ini. Kekritisan yang dibekali kadar intelektualitas yang tinggi merupakan modal besar bagi pendewasaan bangsa ini. "Tokoh kayak Pak Amien itu yang membuat perpolitikan negeri ini menjadi berbobot," papar Taufik (42) responden asal Jakarta.

Akbar Tandjung
HARUS diakui, jam terbang perpolitikan yang digenggam Akbar Tandjung tergolong panjang. Ia hadir dalam seluruh kepemimpinan yang dimiliki negeri ini. Sejak menjadi aktivis mahasiswa di era keruntuhan Orde Lama, menteri di era Orde Baru, sebagai pemimpin Partai Golkar di era Orde Reformasi Pembangunan Habibie, dan sebagai Ketua DPR tatkala Abdurrahman Wahid berkuasa sebagai Presiden.
Panjangnya jam terbang Tandjung membentuk kepiawaian dalam berpolitik. Hal demikian diakui oleh sebagian besar responden. Namun, sikap dan tindakan seperti apa yang menjadi harapan masyarakat kali ini terhadap kiprah Akbar Tandjung? Sebagian besar responden beranggapan sudah sepatutnya tokoh ini berdiri di atas semua kepentingan masyarakat. Dalam situasi bangsa yang serba rumit ini, kepentingan golongan seharusnya ditanggalkan.
Di sisi lain, Tandjung dinilai tidak tegas dalam menjalankan reformasi. Sebagian responden menganggap kiprahnya selama ini menjadi terkesan tidak jelas, serba tanggung dalam menyelesaikan beragam persoalan bangsa. Tidak heran jika reformasi dipraktikkan hanya sebatas kata.
Berkaitan dengan penampilan politik Tandjung, sebagian responden beranggapan, sikap yang ditunjukkan tokoh ini sebenarnya dituntun oleh kehatihatiannya dalam bertindak. Namun, tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa langkahnya saat ini merupakan pilihan yang terbaik dalam menyelamatkan partainya dari terpaan gelombang. "Susah juga, berbuat apa pun juga tampaknya salah. Itulah dosa warisan partainya, image telanjur terpuruk," papar Rusmin (39), salah seorang responden. (Tweki Triardianto/Litbang Kompas)

Tidak ada komentar: