Jajak Pendapat KOMPAS
Selasa, 27 Maret 2001
DISADARI atau tidak, hampir dua tahun terakhir agenda perpolitikan negeri ini hanya bertumpu pada empat tokoh, yaitu Presiden Abdurrahman Wahid, Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua DPR Akbar Tandjung.
BETAPA tidak, fakta menunjukkan sikap dan perilaku para petinggi negara itu telah menguras sebagian keseharian masyarakat. Nyaris sepanjang waktu mereka disajikan tontonan pertentangan di antara keempat tokoh tersebut.
Betapa pun, kini rakyat mulai geram. Hasil jajak pendapat mengungkap hal ini. Kepada keempat tokoh diingatkan untuk tidak lagi bereksperimen dengan ambisi dan kepentingan kelompok mereka. Berikut penilaian kritis responden terhadap para pemimpin negeri ini.
Abdurrahman Wahid
MENJELANG dua tahun pemerintahannya, jajak pendapat yang dilakukan secara periodik mengungkap sikap ketidakpuasan responden terhadap Presiden Abdurrahman Wahid terus meningkat. Bila dikaji, ekspresi ketidakpuasan responden ini bertumpu pada dua persoalan, yakni sikap dan perilaku Presiden. Di sisi lain, responden menilai buruknya prestasi kerja, di mana hampir segenap kebijakan yang dikeluarkan Presiden terkesan tidak berjalan dengan baik. Tidak heran, jika sepanjang memerintah kinerja Presiden lebih banyak dinilai tidak membanggakan ketimbang sebaliknya.
Setumpuk kritik terhadap Presiden mencuat dalam jajak pendapat ini. Bagi mereka, dalam situasi bangsa yang serba tidak pasti ini, Presiden harus bersikap sebagai negarawan yang mampu mengontrol setiap tutur kata yang keluar dari mulutnya. "Omongannya yang tidak terpegang itu bisa menjadi sumber kejatuhannya," ungkap salah seorang responden. "Ketidakkonsistenan ucapan, keras kepala, dan sikap kontroversinya itu juga yang harus direm," sambut responden lainnya.
Dari sisi perilaku, sebagian responden mengingatkan Presiden agar
membenahi ketidakmampuannya dalam mengoordinasikan kerja kabinet. Berbagai kemandekan program pemerintah di berbagai departemen teknis selama ini menjadi bukti ketidakpiawaian pemimpin dalam berhadapan dengan persoalan konkret masyarakat.
Secara khusus, sorotan terhadap kebiasaan Presiden berkunjung ke luar negeri juga tidak kalah besar. Kesan mereka, kunjungan Presiden tidak banyak memberikan manfaat, hanya memanjakan ambisi yang menghamburkan-hamburkan uang negara.
Beragam kritik pedas memang bermunculan. Namun, upaya Presiden yang menjunjung tinggi nilai-nilai pluralisme di negeri ini tidak luput dari pengamatan responden. Sikap seperti ini patut dipertahankan. Bisa jadi, inilah satu-satunya sisi positif yang masih dibanggakan dari sosok Abdurrahman Wahid.
Megawati Soekarnoputri
ADA sikap ambigu pada sebagian responden ketika harus menilai. Di satu sisi, sikapnya yang terlalu banyak berdiam diri dapat dipandang positif. Sebagai bukti, ketika bangsa ini sudah terlalu banyak dijejali oleh komentar para elite negara yang saling bertentangan, tampilan sikap yang tidak mengobral komentar itu membuat simpati masyarakat tidak lekang dari dirinya.
Namun, di sisi lain, pada sebagian responden diam lebih banyak diartikan sebagai bentuk kepasifan dalam bersikap. Tampaknya sikap seperti ini justru merupakan batu sandungan. Apalagi dalam kondisi saat ini, tatkala kemampuan dan karisma kepemimpinan sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan kemelut bangsa. Tidak heran, jika 47 persen responden menganggap sikap pasif yang dipraktikkan ditafsirkan pula sebagai bentuk ketidakmampuan bertindak, ketidaktahuan apa yang harus diperbuat, atau bukti dari keengganan menyelesaikan peliknya persoalan negeri ini.
Selain sorotan terhadap sikap, sebagian responden juga menilai sosok Megawati tidak memiliki ketegasan dalam mengisi perannya di pemerintahan. Sebagian responden lainnya malah melihat kurang terjalin kerja sama harmonis antara Megawati dan Presiden Abdurrahman Wahid. Bisa jadi secara formal tampak rukun, namun sebagian responden menganggap justru sebaliknya yang kini terjadi. "Mana ada sekarang,
dwitunggal kepemimpinan keduanya sering berseberangan kok, kalau seperti itu pantas kan rakyatnya juga enggak rukun," gugat salah seorang responden.
Khusus kepada Megawati, sebagian besar responden tampaknya menaruh harap yang besar. Ketika persoalan ekonomi semakin melilit, pertikaian antarwarga kian mencekam, dan ketegangan di antara para petinggi negara tidak juga terpecahkan, di antara tokoh-tokoh lainnya, sosok Megawati masih dianggap layak untuk dijadikan tumpuan. Oleh karena itu, bagi mereka tidak ada harapan lain kecuali secepatnya berinisiatif, bertindak menyelesaikan kemelut negeri ini.
Amien Rais
SEMENJAK reformasi bergulir, sosok Amien Rais tidak lagi asing di telinga masyarakat Indonesia. Ia dikenal kritis, memiliki keberanian dalam bersikap, dan memiliki kadar intelektualitas yang tinggi. Perannya tidak dapat dikatakan kecil dalam dunia perpolitikan negeri ini. Ia pula yang turut memberikan andil kepada Abdurrahman Wahid dalam merebut takhta kepresidenan.
Hampir 18 bulan pemerintahan berjalan, sebagian masyarakat tampaknya mulai letih dengan segenap sikap dan perilaku Amien Rais. Terbukti, berbagai komentar dan penilaian minor melekat pada ketua umum PAN yang juga motor kelompok Poros Tengah ini. Dalam masalah sikap, sebanyak 25 persen responden menganggap Amien Rais kini sudah terlalu banyak melontarkan komentar. Hal demikian menjadi persoalan, mengingat materi yang dilontarkan sekali pun runtun, logis, serta piawai dalam pemilihan kata, acap kali bermuatan perseteruan.
Dalam situasi bangsa seperti ini, sebagian responden juga menginginkan agar Amien Rais tidak menonjolkan sikap ambisius. "Kalau teriak terus, ambisinya lebih dominan ketimbang niat baiknya," sahut salah seorang responden.
Begitu pun dalam tindakan, sebagian responden berharap Amien Rais konsisten terhadap segenap perilakunya terdahulu. Terhadap keberadaan posisi Presiden Abdurrahman Wahid, misalnya, sebagian responden mempertanyakan sikapnya yang jelas-jelas menggoyang kepemimpinan Presiden. "Dulu habis-habisan mendukung, kini malah Gus Dur mau diturunkan, sikap macam mana ini?" keluh seorang responden.
Lepas dari sorotan kritis masyarakat, oleh sebagian responden figur Amien Rais tetap dianggap sebagai aset berharga yang dimiliki bangsa ini. Kekritisan yang dibekali kadar intelektualitas yang tinggi merupakan modal besar bagi pendewasaan bangsa ini. "Tokoh kayak Pak Amien itu yang membuat perpolitikan negeri ini menjadi berbobot," papar Taufik (42) responden asal Jakarta.
Akbar Tandjung
HARUS diakui, jam terbang perpolitikan yang digenggam Akbar Tandjung tergolong panjang. Ia hadir dalam seluruh kepemimpinan yang dimiliki negeri ini. Sejak menjadi aktivis mahasiswa di era keruntuhan Orde Lama, menteri di era Orde Baru, sebagai pemimpin Partai Golkar di era Orde Reformasi Pembangunan Habibie, dan sebagai Ketua DPR tatkala Abdurrahman Wahid berkuasa sebagai Presiden.
Panjangnya jam terbang Tandjung membentuk kepiawaian dalam berpolitik. Hal demikian diakui oleh sebagian besar responden. Namun, sikap dan tindakan seperti apa yang menjadi harapan masyarakat kali ini terhadap kiprah Akbar Tandjung? Sebagian besar responden beranggapan sudah sepatutnya tokoh ini berdiri di atas semua kepentingan masyarakat. Dalam situasi bangsa yang serba rumit ini, kepentingan golongan seharusnya ditanggalkan.
Di sisi lain, Tandjung dinilai tidak tegas dalam menjalankan reformasi. Sebagian responden menganggap kiprahnya selama ini menjadi terkesan tidak jelas, serba tanggung dalam menyelesaikan beragam persoalan bangsa. Tidak heran jika reformasi dipraktikkan hanya sebatas kata.
Berkaitan dengan penampilan politik Tandjung, sebagian responden beranggapan, sikap yang ditunjukkan tokoh ini sebenarnya dituntun oleh kehatihatiannya dalam bertindak. Namun, tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa langkahnya saat ini merupakan pilihan yang terbaik dalam menyelamatkan partainya dari terpaan gelombang. "Susah juga, berbuat apa pun juga tampaknya salah. Itulah dosa warisan partainya, image telanjur terpuruk," papar Rusmin (39), salah seorang responden. (Tweki Triardianto/Litbang Kompas)
Jumat, 30 Maret 2001
KARTU KUNIG BAGI PETINGGI NEGERI
Senin, 12 Maret 2001
SULIT BERHARAP BANYAK PADA APARAT
Jajak Pendapat KOMPAS
11 Maret 2001
"MEMANG susah kalo yang ketangkep cuman yang kecil-kecil, ndak akan beres kalo kakapnya sendiri masih bebas berkeliaran," papar Danan (20), salah satu responden asal Surabaya yang mengaku pernah memakai narkoba tiga tahun lalu.
PENGALAMAN pahitnya berkenalan dengan aneka obat pemberi mimpi sempat membuat sekolahnya tersendat. Akibatnya, ia terpaksa harus tinggal kelas, dan pindah ke sekolah swasta yang masih mau menampungnya. Orangtuanya pun turut pusing memikirkan hari depannya. Saat ini, ia mengaku sudah bertobat.
Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat-obatan. Anggapan umum menyatakan bahwa narkoba merupakan semua jenis psikotropika yang memabukkan, mulai dari yang berbentuk cairan, serbuk, atau sudah berbentuk tablet/pil. Dari sisi Ilmu Kedokteran, obat narkotik bisa diartikan obat yang bila dipakai terus-menerus oleh pemakainya akan menyebabkan gejala toleransi dan ketergantungan.
Pada awalnya ada yang hanya mencoba-coba atau sekadar ingin tahu, biasanya mereka yang tergolong berusia muda. Setelah mencoba menggunakan, dan mencoba lagi, mulailah apa yang disebut dengan ketergantungan. Ada banyak alasan orang menggunakan narkoba dan makin berderetnya korban narkoba, mulai dari rasa ingin tahu, ajakan teman, atau melarikan diri dari masalah. Yang lebih gawat lagi ditambah oleh kuatnya jaringan pemasaran narkoba. Apalagi jika jaringan pemasaran ini mendapatkan bekingan dari pihak-pihak tertentu.
Sekarang ini, penyalahgunaan narkoba memang bukan lagi persoalan yang cukup dipandang sebelah mata. Narkoba tidak hanya menjadi isu domestik di sebuah keluarga, tetapi sudah membesar menjadi isu negara. Para pecandunya pun tidak hanya sekadar Jim Morrison sang vokalis The Doors atau raja Rock And Roll, Elvis Presley yang sudah di alam baka, tetapi juga telah meracuni pelawak Doyok dan Polo.
Yang mengenaskan lagi, narkoba sudah banyak membius dan mencengkeramkan tangannya ke para teenagers yang masih harus belajar di kelas dan mengerjakan PR dari gurunya. Bahkan, ada pula oknum aparat penegak hukum yang terlibat dengan pil-pil setan. Sayangnya, sanksi yang diberikan sering kali terlalu ringan dan tidak memuaskan masyarakat.
KECENDERUNGAN kian merebaknya penggunaan narkoba, setidaknya telah digambarkan oleh hampir seluruh responden dalam jajak pendapat kali ini. Sikap khawatir telah menghantui mayoritas responden terhadap kemungkinan narkoba akan mengincar salah satu keluarganya.
Walaupun hanya sebagian kecil responden (empat persen) yang mengaku pernah memakai narkoba dan tujuh persen responden yang menyatakan keluarganya pernah atau sedang terlibat narkoba, kekhawatiran yang mereka tunjukkan tidak lagi dapat dianggap remeh. Apalagi, hampir separuh bagian responden mengakui bahwa di lingkungan sekitar rumahnya, atau minimal tetangga dekatnya ada yang pernah atau sedang terkena pengaruh narkoba. Semua kondisi ini tentu semakin mengkhawatirkan mereka.
Hal ini disebabkan oleh makin mudah dan murahnya mendapatkan barang haram itu. Saat ini telah begitu banyak bermunculan "paket hemat" narkoba yang murah meriah, mudah didapat, dan cukup membuat fly para penggemarnya. Bagaimanapun juga, adanya permintaan dan penawaran yang saling mendukung semakin menyuburkan merebaknya kasus-kasus narkoba.
Memang sangat beralasan jika ada kekhawatiran dari responden dengan kian merebaknya penggunaan narkoba. Sebagai gambaran lebih lanjut, responden menganggap masih terlalu ringan (72 persen) sanksi hukum yang diberikan selama ini. Malaysia misalnya, penerapan hukuman mati adalah sebuah keniscayaan yang wajib dijalani oleh pelaku yang tertangkap basah di negeri jiran itu. Di negeri ini, sanksi hukum sama sekali tidaklah menakutkan. Tidak mengherankan jika Indonesia telah menjadi surga bagi mereka yang terlibat asyik dengan narkoba.
Kondisi demikian semakin diperparah pula oleh sikap aparat keamanan dalam menindak para pelaku narkoba. Dalam benak dua per tiga responden (64,5 persen), timbul kesan ketidakpuasan dengan langkah aparat selama ini dalam menghukum para pelaku maupun pengedar narkoba.
Tampaknya ketidakmampuan aparat keamanan dalam memberi sanksi hukum yang berat inilah yang menyebabkan upaya dalam memberantas narkoba menjadi sia-sia belaka. Seperti yang digambarkan oleh lebih dari tiga per empat responden, bahwa percuma saja hukuman yang diberikan kepada para pelaku yang tertangkap karena tidak efektif untuk mengurangi para pemakainya. "Bagaimana mau kapok, yang tertangkap gampang keluar begitu saja. Kalau ada duit, beres!" sesal Jason (35), responden dari Manado.
MEMANG, harus diakui sistem hukum selama ini masih jauh dari gambaran ideal dalam mengikis kasus-kasus narkoba. Walaupun dalam UU Nomor 22/1997 tentang Narkotika, hukuman mati-sebagai hukuman paling berat-sudah ditetapkan, namun dalam implementasinya tidak semudah yang dibayangkan. Munculnya kesan masih lembeknya sanksi hukum tidak diikuti oleh sikap responden yang tak perlu berpikir dua kali dalam mencermati penerapan hukuman mati. Dalam jajak pendapat ini, lebih dari separuh responden (51 persen) yang setuju untuk menerapkan hukuman mati bagi siapa pun yang terlibat narkoba, baik pengedar pemakai ataupun aparat hukum.
Pada sisi lain, sebagian responden menyikapinya untuk berhati-hati dalam menerapkan hukuman mati. Itu pun tergantung, siapa yang terlibat dengan narkoba. Dari sisi yang terlibat dengan narkoba, responden mengharapkan sanksi yang diberikan kepada pemakai cukup hukuman kurungan dengan batas waktu tertentu saja. Berbeda dengan pelaku (pengedar) ataupun aparat yang terlibat. Di mata responden, keduanya cukup layak untuk dihukum seumur hidup, jika perlu dihukum mati pun menjadi alternatif terbaik.
Untuk mengantisipasi kian merebaknya narkoba, tampaknya tidak mungkin sepenuhnya bergantung pada tindakan aparat penegak hukum. Sebagai upaya mengatasinya, yang paling efektif memang dari dalam keluarga sendiri. Kecenderungan modernitas dalam keluarga ternyata ikut berpengaruh terhadap pola pergaulan anak-anak. Semua semakin memperlemah ikatan kekeluargaan di rumah. Akhirnya, muncul anomali di dalam keluarga. Dalam situasi seperti ini, narkoba di luar siap menanti. Hal inilah yang disadari oleh bagian terbesar dari responden.
(Tweki Triardianto/Litbang Kompas)