KOMPAS, 17 Apr 2004
Jajak Pendapat Kompas
KEMENANGAN GOLKAR DISAMBUT DILEMATIS
PARTAI Golongan Karya tak mati-mati. Berbagai persoalan yang terus melanda partai ini setelah Orde Baru jatuh ternyata tak mampu meluruhkan namanya. Sempat terpuruk akibat persoalan internal yang acap terjadi atau kasus korupsi yang melibatkan ketuanya, partai ini tidak serta-merta mendapat suara yang buruk pada Pemilu 2004.
HINGGA detik ini, berdasarkan penghitungan suara sementara, Partai Golkar berada di posisi teratas. Bahkan, selisih suara dengan urutan kedua yang diduduki PDI-P berkisar satu juta suara. Menguatnya posisi Partai Golkar adalah sebuah kenyataan yang sulit diingkari. Begitu pula dengan sikap publik. Lebih dari 60 persen responden jajak pendapat kali ini menyatakan sikap penerimaan mereka atas keunggulan Partai Golkar.
Berbagai sikap ketidakpuasan yang muncul dari sebagian kalangan elite politik terhadap hasil penghitungan sementara tampaknya tak membuat sikap publik terpengaruh. Keinginan Aliansi 19 Partai Politik mengadakan pemilu ulang pun tidak banyak ditanggapi secara positif. Dengan demikian, penghitungan suara yang melewati 50 persen, dan menempatkan Partai Golkar di posisi teratas, tetap bisa diterima publik.
Secara spesifik, sikap penerimaan yang begitu elegan tercermin dari meratanya pernyataan menerima publik dari sisi pilihan partai politiknya. Responden yang memilih Partai Golkar pada Pemilu 2004 lalu secara otomatis menjadi yang tertinggi tingkat penerimaannya.
Begitu pula dengan responden yang memilih dua partai politik nasionalis lainnya. Responden yang memilih PDI-P, misalnya, hampir 60 persen menerima keunggulan Partai Golkar. Hal yang sama juga dilontarkan oleh pendukung salah satu partai nasionalis baru, Partai Demokrat. Lebih dari separuh responden yang memilih Partai Demokrat menyatakan sikap penerimaannya terhadap kemenangan Partai Golkar.
Yang menarik, responden yang memilih partai politik berbasis massa Islam terpecah menjadi dua kubu. Yang pertama, responden yang menerima keunggulan Partai Golkar. Mereka berasal dari PKB dan PKS.
Adapun yang menolak kenyataan ini adalah dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Bulan Bintang (PBB).
Berdasarkan kota responden, sikap penerimaan mulai terfragmentasi di wilayah basis-basis. Sikap penerimaan responden di kota-kota Pulau Jawa, seperti Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta, memang tinggi.
Lebih dominannya penerimaan responden di kota-kota luar Pulau Jawa membuktikan Partai Golkar mempunyai akar yang kuat di luar Jawa. Di wilayah ujung barat Indonesia (diwakili Medan dan Padang) hampir dua per tiga responden mengakui keunggulan Partai Golkar. Bahkan, 81 persen responden Kota Padang yang dianggap representasi dari partai politik Islam menyatakan penerimaannya terhadap kemenangan Partai Golkar.
Responden yang berada di wilayah tengah dan timur Indonesia yang diwakili oleh Kota Pontianak, Banjarmasin, Manado, Makassar, dan Jayapura juga bersikap sama. Rata-rata 70 persen di lima kota tersebut dengan tegas menerima penghitungan suara sementara yang meletakkan Partai Golkar di tempat teratas.
MENYIKAPI Konvensi Calon Presiden Partai Golkar yang akan diadakan pada 20 April mendatang muncul beragam sikap dari responden terhadap posisi tiap individu calon presiden. Secara garis besar, ada tiga kalangan yang dianggap paling layak menjadi calon presiden, yaitu kalangan politikus, pengusaha, dan militer. Ketiga kalangan ini sebenarnya menyiratkan latar belakang enam calon yang hendak bertarung nanti.
Surya Paloh dan Aburizal Bakrie, misalnya, merupakan kandidat yang berlatar belakang pengusaha. Jusuf Kalla yang sebelumnya dikenal juga sebagai pengusaha kini duduk dalam birokrat pemerintahan. Sementara itu, Akbar Tandjung adalah representasi dari
politikus sekaligus calon dari internal Partai Golkar.
Adapun Wiranto dan Prabowo Subianto merupakan calon terkuat dengan latar belakang militer yang dianggap mampu menandingi keempat kandidat lainnya. Separuh responden menilai calon presiden dari kalangan militer yang dianggap layak lolos dalam Konvensi Partai Golkar.
Secara individual, di mata publik posisi masing-masing kandidat mendapatkan dukungan yang relatif merata. Persaingan dukungan begitu kuat justru terjadi antara Jusuf Kalla dan Wiranto. Dari kalangan responden yang pada Pemilu 2004 memilih Partai Golkar, misalnya, kedua kandidat itu mempunyai dukungan yang nyaris seimbang. Keempat kandidat yang lain hanya mendapatkan dukungan di bawah 10 persen.
Begitu pula halnya dari wilayah kota responden. Wiranto dan Jusuf Kalla bersaing sendiri meninggalkan lawan-lawannya. Dukungan terhadap Wiranto di setiap kota relatif lebih merata, sedangkan dukungan terhadap Jusuf Kalla terlihat lebih terkonsentrasi. Di Medan, misalnya, Jusuf hanya didukung oleh 17 persen, sedangkan di kampung halamannya, Makassar, ia mendapat dukungan 76 persen.
Namun, muncul kebimbangan publik terhadap keenam Calon Presiden Konvensi Partai Golkar. Sikap bimbang ini tercermin dari besarnya proporsi responden yang menilai tidak ada calon yang layak, ditambah mereka yang ragu dalam menilai kandidat presiden dari Konvensi Partai Golkar.
SIKAP publik yang cenderung setengah hati memandang para calon presiden hasil Konvensi Partai Golkar menunjukkan masih kentalnya pesimisme dalam memandang kiprah politik Partai Golkar. Hal demikian tampak pula dalam sikap publik terhadap kiprah partai ini pasca-Pemilu 2004. Meskipun untuk sementara unggul dalam perolehan suara pemilu legislatif, publik tetap tidak yakin Partai Golkar akan dapat membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Ketidakyakinan ini dinyatakan oleh 57 persen responden.
Dilihat dari partai pilihannya, hanya responden Partai Golkar saja yang optimistis (79 persen). Adapun partai-partai politik lainnya cenderung bersikap pesimistis. Responden dari PKB merupakan publik yang paling menyangsikan kemampuan Partai Golkar untuk membawa bangsa ini menuju ke arah yang lebih baik (83 persen).
Jika dilihat dari domisili responden, terjadi perbedaan penyikapan di beberapa kota. Di antara kota-kota lain yang respondennya menyuarakan ketidakyakinan, Jakarta dan Yogyakarta, adalah kota-kota di mana ketidakyakinan responden paling banyak dirasakan. Sebaliknya, responden dari Kota Makassar dan Padang cenderung merasa yakin akan kemampuan Golkar memperbaiki kondisi bangsa.
Kondisi yang demikian sebenarnya menyiratkan bahwa kemenangan Partai Golkar dalam pengumpulan suara dan strategi penyaringan calon presiden melalui konvensi tidak berarti akan menjadi nilai tambah bagi Partai Golkar dalam pemilihan presiden nanti. (TWEKI TRIARDIANTO/Litbang Kompas)
Metode Jajak Pendapat
Pengumpulan pendapat melalui telepon ini diselenggarakan Litbang Kompas 14-15 April 2004. Sebanyak 937 responden berusia minimal 17 tahun dipilih menggunakan metode pencuplikan sistematis dari buku telepon terbaru. Responden berdomisili di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Padang, Pontianak, Banjarmasin, Makassar, Manado, dan Jayapura. Jumlah responden di setiap kota ditentukan secara proporsional. Menggunakan metode ini, pada tingkat kepercayaan 95 persen, kekeliruan pencuplikan penelitian +/-3,2 persen. Meski demikian, kekeliruan pencuplikan dimungkinkan terjadi. Hasil jajak pendapat ini tidak dimaksudkan mewakili pendapat seluruh populasi negeri ini.
Minggu, 18 April 2004
Jajak Pendapat "Kompas" - Kemenangan Golkar Disambut Dilematis
Label:
Partai Politik
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar