Selasa, 30 September 2003

Jajak Pendapat "Kompas" - Partai Dipinggirkan, Kotak Suara Tetap Didatangi

________________________________________
KOMPAS, 29 Sep 2003
Jajak Pendapat Kompas
PARTAI DIPINGGIRKAN, KOTAK SUARA TETAP DIDATANGI


Kekecewaan masyarakat terhadap kiprah partai politik, pemerintah, dan Komisi Pemilihan Umum dalam menyiapkan pemilu mendatang ternyata belum sepenuhnya menjadi indikator bagi menurunnya jumlah pemilih pada Pemilu 2004. Berbeda dengan pendapat sebagian pengamat politik yang mengingatkan bakal menurunnya jumlah pemilih, keinginan masyarakat untuk mengikuti pemilu mendatang tetap besar.

KESIMPULAN itu mengemuka dalam jajak pendapat Kompas yang dilakukan 17-19 September 2003 dan 24-26 September 2003. Sebagian besar publik memang mengaku tidak puas atas berbagai kinerja partai menjalankan berbagai fungsinya selama ini. Kinerja partai dalam melakukan pendidikan politik kepada masyarakat, dalam mempromosikan program-programnya dan dalam menangkap aspirasi rakyat, rata-rata dinilai tidak memuaskan oleh 70 persen responden. Demikian halnya dengan penempatan wakil-wakil rakyat yang duduk di lembaga DPR/MPR atau dalam menyikapi kebijakan pemerintah, dinilai menyedihkan.
Partai politik (parpol) yang ada selama ini juga dinilai tidak bersikap transparan dalam pengelolaan dana partai. Tidak aneh karena selama ini memang nyaris tidak ada partai yang berani secara terbuka memublikasikan pengelolaan keuangannya.
Demokrasi nyaris menjadi kata usang apabila kepentingan kekuasaan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) partai tidak diuntungkan. Ketertutupan partai dalam pemilihan bupati atau gubernur sangat tidak memuaskan publik. Maka, tidak heran jika lebih dari setengah (51 persen) responden kecewa dengan parpol. Pernyataan 31 persen responden yang menilai bahwa parpol tidak serius dalam mempersiapkan pesta demokrasi mendatang merupakan cerminan dari sepak terjang partai yang kian jauh dari aspirasi rakyat. Disparitas yang cenderung kian jauh ini tampaknya perlu disadari parpol, khususnya parpol yang mendapatkan wakilnya di parlemen.
Perseteruan internal partai yang juga mewabah ke beberapa partai besar pun patut diwaspadai oleh para pengurus partai. Berbagai kelemahan yang dipertontonkan partai- partai politik selama ini bisa jadi terekam cukup kuat di benak publik.
Kenyataan ini sebenarnya mulai terbukti. Seperti yang terekam dalam jajak pendapat yang diadakan pada 17-19 September 2003. Meskipun 25 persen responden akan tetap mencoblos parpol pilihannya di Pemilu 1999 lalu, namun jawaban 31 persen responden yang akan mengganti pilihan cukup mengagetkan. Bahkan, dalam jajak pendapat tersebut juga terungkap besarnya sikap ragu responden (29 persen) dalam menentukan pilihannya jika pemilu diadakan saat itu.
Pandangan miring juga dialamatkan pada kinerja pemerintah dalam mempersiapkan Pemilu 2004. Hal ini tercermin dari pernyataan lebih dari sepertiga jumlah responden (34 persen) yang menilai ketidakseriusan pemerintah. Hal yang sama juga diungkapkan mereka dalam memandang kinerja Komisi Pemilihan Umum (34 persen). Secara khusus, ketidakseriusan dan kekhawatiran akan persiapan pemilu ini juga terdeteksi oleh sebagian kalangan.

DI balik kegusaran publik terhadap kinerja partai, antusiasme masyarakat terhadap Pemilu 2004 ternyata masih tergolong cukup tinggi. Berdasarkan hasil jajak pendapat, 56 persen responden merasa antusias menyambut datangnya pemilu mendatang. Sementara itu, sebanyak 40 persen lainnya kurang antusias dalam menyambut pemilu
mendatang.
Bahkan, apabila dikaitkan dengan keikutsertaan masyarakat dalam pemilihan umum ini, kekecewaan masyarakat terhadap partai sebagaimana yang dipaparkan sebelumnya seolah menjadi tidak tercermin. Sebanyak 80 persen responden, sekalipun terdapat kalangan yang mengaku kurang antusias, namun menyatakan dirinya akan ikut memilih dalam pemilu mendatang. Hanya 10 persen saja yang sudah menetapkan untuk tidak berpartisipasi dalam pesta demokrasi yang diadakan setiap lima tahun sekali ini. Sisanya adalah mereka yang masih ragu-ragu.
Jika dibandingkan dengan jajak pendapat di awal Februari 2003-84 persen responden akan menggunakan hak pilihnya-memang telah terjadi penurunan atas pernyataan positif publik dalam jajak pendapat kali ini. Akan tetapi, persentase dari responden yang tidak memilih yang berada di seputar 10 persen ini tak jauh berbeda dengan fakta yang terjadi di setiap pemilihan umum yang terjadi selama ini.
Sejak pemilu pertama dilakukan pada tahun 1955 hingga enam kali pemilu di masa rezim Orde Baru, dan Pemilu 1999, jumlah mereka yang enggan menggunakan hak pilihnya bersifat konstan pada kisaran 10 persen. Jika dibandingkan dengan para pemilih yang menggunakan hak pilihnya, proporsi tersebut masih tergolong rendah.
Jajak pendapat ini juga mengungkap latar belakang para pemilih disertai alasan mengapa mereka tidak menggunakan hak pilihnya. Jika dipaparkan, sekitar 30 persen responden tidak memilih karena faktor usia sebagai hambatan prosedural. Akan tetapi, jika faktor usia dihilangkan, ada dua kriteria yang menjadi pertimbangan sekaligus mengklasifikasikan tipe responden yang tidak memilih.
Pertama adalah yang tidak memilih disebabkan oleh adanya kepentingan lain yang lebih mendesak. Alasan ini bisa jadi merupakan golongan responden yang masuk dalam kategori sengaja untuk tidak menggunakan haknya bukan karena alasan politis. Dalam jajak pendapat ini, 48 persen responden menilai dirinya masuk kategori demikian.
Adapun yang kedua merupakan responden yang dengan sengaja tidak memilih. Alasan politis ini dijelaskan oleh 39 persen responden yang tidak memilih dalam Pemilu 1999. Ketidakikutsertaan mereka karena tidak setuju dengan sistemnya atau suaranya tidak terwakili oleh parpol selama ini.
Begitu pula dengan pernyataan publik yang tidak akan menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2004. Alasan ketidakpercayaan terhadap sistem, dan bahwa parpol ternyata tidak sesuai dengan harapannya, menjadi faktor terbesar bagi mereka untuk jauh-jauh hari tidak memilih di pemilu mendatang. Walaupun sikap tersebut diyakini tidak akan berpengaruh terhadap kondisi politik nasional (36 persen), mereka tetap tidak akan memilih di Pemilu 2004. (Tweki Triardianto/ Litbang Kompas)

Read More......

Senin, 15 September 2003

Jajak Pendapat "Kompas" - Mengejar Popularitas, Meninggalkan Intelektualitas

KOMPAS, 14 Sep 2003
Jajak Pendapat "Kompas"
MENGEJAR POPULARITAS, MENINGGALKAN INTELEKTUALITAS


TERUNGKAP kesan dilematis di mata masya-rakat dalam mencermati kiprah mahasiswa saat ini. Sikap dan langkah sebagian mahasiswa di satu sisi mendapatkan respons positif, namun di sisi lain tindakan sebagian kalangan terdidik ini acapkali membuat gerah masyarakat.

TANGGAPAN positif terangkum dari pernyataan 49 persen responden yang merasa puas dengan kiprah mahasiswa dalam mengisi kehidupan di masyarakat. Sikap kritis mahasiswa terhadap kondisi bangsa ini tampaknya menjadi satu peluru yang memperkuat anggapan positif publik terhadap mereka. Meski demikian, terdapat 47 persen responden yang menyatakan ketidakpuasannya terhadap langkah mahasiswa dalam berbagai hal. Fakta memang menunjukkan ada sebagian kalangan mahasiswa yang cenderung lebih memedulikan dirinya sendiri. Berbagai kasus narkoba yang melibatkan mahasiswa atau ketidakpedulian mahasiswa terhadap situasi dan kondisi di masyarakat, tak urung menjadi salah satu alasan ketidakpuasan sebagian responden itu.
Melihat ke belakang, munculnya penilaian positif dan negatif ini sebenarnya tak lepas dari perjalanan historis mahasiswa pada setiap momen penting yang dihadapi bangsa ini. Di masa kemerdekaan, gerakan mahasiswa menjadi salah satu motor yang turut mempercepat lepasnya penjajahan asing. Ide-ide persatuan yang dikembangkan semenjak Budi Oetomo, menjadi pemicu derasnya keinginan untuk merdeka. Sayangnya, sorotan negatif muncul pula di sebagian masyarakat. Anggapan bahwa mahasiswa terlalu membawa nilai-nilai Barat membuat Presiden Soekarno waktu itu "terpaksa" melarang lagu-lagu Beatles beredar di Indonesia, bahkan personel grup musik Koes Plus sempat dipenjarakan.
Begitu pula di saat detik-detik kejatuhan rezim Orde Lama. Pada tataran ide, peran mahasiswa sangat efektif dalam memberi pemahaman di masyarakat terhadap ekses-ekses dari misi PKI. Terlepas dari persaingan ideologi yang berkembang, gerakan moral mahasiswa turut menentukan kekalahan komunis. Selanjutnya, kritik keras mahasiswa terhadap salah satu langkah rezim Orde Baru dalam mengadakan kerja sama dengan Jepang menjadi pemicu munculnya peristiwa Malari di tahun 1974. Meskipun saat itu kritik-kritik mereka terhadap pemerintah dipandang positif, namun di balik itu masyarakat juga sangat menyayangkan gaya hidup sebagian mahasiswa yang penuh dengan pesta dan hura-hura.
Sikap kritis sebagian mahasiswa masih tetap berlanjut hingga kini. Gerakan moral dan demonstrasi para mahasiswa menjadi penyebab jatuhnya Soeharto. Bersatunya mahasiswa dari berbagai organisasi dan ideologi dalam menolak rezim berbuah dengan bergulirnya era reformasi hingga sekarang. Namun anggapan negatif masih muncul di masyarakat. Persoalan narkoba, individualisme, dan sikap mencari gampangnya saja dalam mencapai tujuan adalah beberapa isu miring yang berkembang di masyarakat.

MENCERMATI dinamika mahasiswa, tak lepas dari kiprahnya di awal reformasi hingga sekarang. Eksistensi mahasiswa sangat dipengaruhi oleh sikap kritisnya terhadap persoalan yang melanda bangsa ini. Publik jajak pendapat lebih menilai keberadaan mahasiswa dengan tolok ukur gerakan moral mereka yang memisahkan diri dari lingkaran kekuasaan negara. Tidak mengherankan jika 78 persen responden beranggapan bahwa mahasiswa mempunyai kepedulian terhadap berbagai persoalan bangsa ini secara keseluruhan.
Persoalan ekonomi yang bermuara pada masalah pengangguran dan kemiskinan menjadi isu-isu sentral yang dianggap dipedulikan oleh gerakan mahasiswa menyoroti kondisi di masyarakat saat ini. Terbukti dari tingginya respons positif responden dalam menilai kepedulian mahasiswa terhadap semakin membesarnya tingkat pengangguran (59 persen) dan kemiskinan (63 persen).
Tingginya kepedulian mahasiswa ini memang tak dapat dibantah. Mengingat Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sendiri telah memperkirakan pada tahun 2004 jumlah angkatan kerja akan mencapai 102,88 juta orang, termasuk angkatan kerja baru 2,10 juta orang. Bahkan Bappenas memprediksi lapangan kerja baru yang tak mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja baru itu akan menyebabkan angka pengangguran terbuka tahun 2004 meningkat menjadi 10,83 juta orang (10,32 persen dari angkatan kerja), dari tahun sebelumnya yang 10,13 juta orang. Adapun tingkat kemiskinan yang relatif masih besar, yaitu 16 persen atau 36 juta orang, menjadi satu isu yang cukup sensitif di kalangan mahasiswa. Apalagi dengan kendala yang dihadapi pemerintah selama ini dalam mengentaskan kemiskinan.
Demikian pula dengan penilaian responden terhadap kepedulian mahasiswa dalam kehidupan politik. Paling tidak, empat dari lima responden meyakini bahwa mahasiswa mempunyai sikap peduli terhadap situasi politik nasional yang masih fluktuatif ini. Belum beresnya berbagai persoalan yang ditanggung pemerintah tak luput dari perhatian mahasiswa. Apalagi menjelang Pemilu 2004, publik berpandangan positif terhadap sikap kritis mahasiswa dalam menyikapi persoalan mekanisme pemilu yang dianggap lebih mengutamakan kepentingan partai politik tertentu.

DI balik sisi positif, ada pandangan minor di benak publik terhadap kinerja intelektual mahasiswa dalam menghadapi realitas sosialnya. Responden menilai berbagai bentuk persaingan dan kian sempitnya dunia global tidak ditanggapi secara serius oleh sebagian mahasiswa. Terbukti dengan pernyataan separuh responden yang merasa tidak yakin mahasiswa sekarang akan mampu bersaing secara intelektual dengan mahasiswa dari luar negeri. Bahkan dilihat dari sisi pendidikan, semakin tinggi pendidikan responden, semakin tinggi pula tingkat ketidakyakinan terhadap kemampuan mahasiswa.
Bahkan separuh responden juga menyatakan ketidakyakinan mereka akan kemampuan mahasiswa untuk mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. Padahal, dalam situasi perekonomian yang cenderung stagnan seperti saat ini, dituntut kreativitas yang tinggi dalam menciptakan peluang kerja. Pernyataan hampir separuh responden yang meyakini bahwa mahasiswa sekarang tidak mandiri dalam mengatasi kesulitannya sendiri, barangkali merupakan sisi lain untuk menggambarkan kemanjaan hidup mahasiswa sekarang. Karena itu, bukanlah mustahil adanya sikap ragu dalam diri responden dalam memandang mahasiswa sebagai generasi penerus. Dalam hal ini, responden berpendidikan tinggi cenderung meragukan kemampuan mahasiswa sekarang dalam memimpin bangsa ini di masa mendatang. (Tweki Triardianto/Litbang Kompas)

Read More......