KOMPAS, 27 Sep 2004
Jajak Pendapat Kompas
HASIL PEMILU DITERIMA KEDUA PENDUKUNG CAPRES
Kepuasan publik terhadap jalannya pemilihan umum presiden putaran kedua meningkat dibandingkan pada pemilu legislatif dan pemilu presiden putaran pertama. Mereka pun dapat menerima hasil sementara pemilu yang menempatkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla sebagai pemenang untuk menduduki jabatan sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.
Kesimpulan ini muncul sebagai rangkuman dari jajak pendapat Kompas yang diselenggarakan khusus untuk menilai pelaksanaan dan penerimaan terhadap hasil pemilu presiden putaran pertama 20 September 2004. Penilaian kepuasan terhadap pelaksanaan pemilu presiden tahap kedua dan penerimaan publik terhadap hasil pemilu tercermin dari respons positif yang merata di setiap daerah.
Penerimaan terhadap hasil pemilu presiden tahap kedua yang menempatkan pasangan Yudhoyono-Kalla lebih unggul daripada pasangan Mega-Hasyim juga tercermin dari jawaban konstituen pemilih kedua pasangan ini. Pemilih kedua pasangan sama-sama menerima kenyataan kemenangan sementara pasangan yang disokong Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, serta Partai Keadilan Sejahtera ini.
Di antara responden yang kemarin memilih pasangan Yudhoyono-Kalla, hampir seluruhnya (98 persen) dapat menerima hasil yang disampaikan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menempatkan pasangan itu sebagai pemenang. Sementara itu, 89 persen pemilih pasangan Mega-Hasyim juga menyatakan penerimaannya atas kemenangan sementara pasangan Yudhoyono-Kalla.
Sikap legowo yang ditunjukkan publik terhadap penghitungan suara yang dilakukan lembaga-lembaga di luar KPU pun begitu besar. Model penghitungan cepat (quick count) yang dilakukan lembaga-lembaga riset melalui mekanisme pengambilan sampel TPS-TPS tertentu dianggap representatif dengan penghitungan yang dilakukan KPU. Bahkan, empat dari lima responden memercayai kesahihan hasil penghitungan cepat tersebut.
Selain menerima hasil pemilu, hampir seluruh responden (94 persen) juga menyatakan kepuasannya atas pelaksanaan pemilu presiden tahap kedua. Sikap positif yang ditunjukkan publik ini tak lepas dari kinerja KPU yang dinilai sudah lebih profesional.
Berbagai kekurangan yang terjadi pada pemilu presiden putaran pertama tampaknya telah memicu KPU untuk lebih baik lagi dalam pemilu presiden putaran kedua pada minggu lalu. Sosialisasi dan informasi, persiapan, hingga mekanisme penghitungan suara pada pemilu presiden putaran pertama yang banyak menuai kritik tidak lagi berulang.
Dalam hal tata cara pencoblosan calon presiden, misalnya, publik menilai informasi dan penjelasan petugas TPS mengenai mekanismenya semakin baik. Terbukti dalam jajak pendapat yang diselenggarakan 7-8 Juli 2004 atau dua hari setelah pelaksanaan pemilu presiden putaran pertama, 77 persen responden menganggap cukup memadainya penjelasan dari petugas TPS.
Adapun pada jajak pendapat kali ini, yang diselenggarakan dua hari setelah pelaksanaan pemilu, 93 persen responden mengakui memadainya penjelasan dari petugas TPS. Bahkan, hampir 100 persen responden menyatakan mudahnya tata cara pencoblosan ketika berada di bilik suara.
Begitu pula dengan logistik yang dipersiapkan KPU. Sekitar 95 persen responden menyatakan rasa puasnya baik terhadap kualitas kertas suara maupun kualitas gambar calon presiden-wakil presiden.
Dibandingkan dengan pemilu presiden putaran pertama, kepuasan responden terhadap kedua hal itu juga kian meningkat. Hal yang sama dirasakan pula dalam mengkaji kualitas tinta yang digunakan sebagai tanda bahwa pemilih telah menggunakan hak pilihnya. Pada pemilu presiden putaran pertama sempat muncul polemik terhadap kualitas tinta yang dinilai relatif lebih mudah hilang dibandingkan dengan tinta yang dipakai pada pemilu legislatif.
Bahkan, hampir 60 persen responden jajak pendapat Kompas yang diadakan dua hari setelah pelaksanaan pemilu presiden putaran pertama mengakui betapa buruknya kualitas tinta yang digunakan saat itu. Namun, hal itu tidak terjadi lagi pada pemilu presiden putaran kedua kali ini, bahkan 76 persen menilai membaiknya kualitas tinta yang digunakan para pemilih.
MEMANG, sebagian kalangan sempat mengkhawatirkan kelancaran pemilu presiden putaran kedua. Peledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia pada 9 September 2004 atau sebelas hari sebelum pemilu, misalnya, menjadi salah satu indikator rawannya keamanan pemilu 20 September. Bahkan, peristiwa peledakan bom tersebut sempat menggoyang nilai rupiah hampir mendekati Rp 9.300 per dollar AS dan indeks saham pun sempat turun hingga 31 poin lebih atau 4,1 persen.
Namun, ketakutan dan kekhawatiran itu pupus sudah. Kelancaran dan kesuksesan pemilu presiden 20 September telah merontokkan perkiraan sebagian kalangan. Di DKI Jakarta, misalnya, pengamanan pemilu, yang melibatkan 15.000 aparat kepolisian yang ditempatkan di lokasi-lokasi strategis dan disebarnya 37 satuan setingkat peleton di 37 wilayah komando rayon militer yang dianggap rawan, membuat pemilu berjalan kondusif.
Dari sisi ekonomi, kesuksesan pemilu juga berdampak pada kian membaiknya sentimen para pelaku pasar. Satu hari seusai pemilu, perdagangan saham langsung menembus level resisten. Beberapa kalangan praktisi menilai membaiknya indeks harga saham bahkan bisa mencapai level 840 hingga 850. Reaksi pasar yang positif ini diprediksi Menteri Keuangan Boediono akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 4,8 persen.
Kesuksesan pemilu ini diakui pula oleh salah satu pemantau pemilu. Forum Rektor Indonesia, misalnya, menilai pemilu presiden putaran kedua berlangsung lancar, jujur, adil, aman, dan damai. Sekitar 5.000 mahasiswa yang turun sebagai pemantau pemilu di 3.884 TPS di seluruh Indonesia, kecuali Lampung, Gorontalo, dan Maluku Utara, menghasilkan kesimpulan baiknya proses pemilu. Hampir 100 persen pun menyatakan pengamanan dan kondusifnya proses pemilu sebagai faktor suksesnya pemilu.
Sayangnya, kesuksesan pemilu masih tercederai oleh beberapa tekanan dari masing-masing pendukung calon presiden-wakil presiden tertentu. Meskipun relatif kecil, membesarnya pengakuan publik atas intervensi yang dilakukan oleh masing-masing pendukung calon presiden membuktikan belum dewasanya sikap politik masing-masing kubu.
Terbukti, pada pemilu presiden putaran kedua kali ini tekanan untuk memilih pasangan tertentu masih dirasakan oleh enam persen responden, dan bujukan dengan imbalan uang atau barang masih dialami oleh lebih dari tujuh persen responden.
Hal yang sama ditemukan pula dalam proses pencoblosan maupun penghitungan suara. Jika pada pemilu presiden putaran pertama responden yang mengetahui adanya kecurangan hanya tiga persen, pada pemilu presiden putaran kedua sekitar delapan persen mengemukakan terjadinya kecurangan.
Demikian pula dalam penghitungan suara. Pada pemilu presiden putaran pertama hanya tiga persen responden saja yang mengetahui terjadinya kecurangan, sedangkan pada pemilu presiden putaran kedua meningkat menjadi tujuh persen responden.
(Tweki Triardianto/Litbang Kompas)
Selasa, 28 September 2004
Jajak Pendapat "Kompas" - Hasil Pemilu Diterima Kedua Pendukung Capres
Label:
Pemilu-Pilkada
Langganan:
Postingan (Atom)