Jajak Pendapat KOMPAS
Senin, 8 Januari 2001
WONG pemimpinnya keras kepala gitu ,ya jelas bawahannya jangan berharap akan patuh melulu,"papar Rusdi (42),salah seorang pedagang mi rebus yang mangkal di pertigaan Jalan Arteri Patal Senayan, Jakarta.
BAGI dirinya, pernyataanya itu tidak hanya sekadar komentar. Lebih dari itu, sekaligus juga sebuah kesimpulan, yang menggambarkan betapa kian rumitnya perjalanan kinerja pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid bersama para menterinya belakangan ini.
Perjalanan sejarah kepemimpinan Presiden keempat ini memang penuh warna. Dalam waktu yang tergolong singkat, ia harus menghadapi berbagai persoalan pelik bangsa ini. Uniknya, nyaris segenap persoalan yang muncul tidak lepas dari perilaku serta karakter yang dimilikinya. Sebut saja, sepanjang pemerintahannya, ia banyak dipersoalkan lantaran terlalu banyak pernyataan kontroversial yang dimunculkan. Kenyataan juga menunjukkan berbagai pernyataan menjadi semakin kontroversial lagi lantaran ketidakkonsistenan antara satu sikap dengan penyikapan lain kerap bermunculan.
Pada sisi lain, sorotan terhadap prestasi kerja kabinet pun tidak kurang banyak dipersoalkan. Intinya, lebih dari setahun memerintah, ketidakpuasan terhadap kinerja tetap lebih besar ketimbang yang menganggap berhasil.
Tampaknya, gempuran persoalan tidak hanya muncul dari pihak di luar kabinet. Sepanjang usia pemerintahannya, ia pun harus bergumul dengan persoalan-persoalan yang berasal dari pembantunya. Tengok, selama lebih dari satu tahun memerintah telah berkali-kali dilakukan pencopotan, perombakan, bahkan pengunduran diri para menterinya.
Terakhir, yang cukup menggemparkan permohonan pengunduran diri yang diajukan oleh Ryaas Rasyid dari kedudukannya sebagai Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Menneg PAN). Peristiwa ini, mau tidak mau, memberikan penilaian tersendiri terhadap kualitas pemerintahan yang dianggap memiliki legitimasi masyarakat ini.
SEBAGAIMANA diketahui, pernyataan mundur yang ditunjukkan Ryaas Rasyid dengan didahului menyampaikan surat pengunduran diri Selasa (2/1) pekan lalu, telah berkembang menjadi polemik tersendiri.
Bagi masyarakat, seperti yang terangkum dalam jajak pendapat ini, pengunduran diri Ryaas Rasyid disikapi secara beragam. Namun, pada intinya, mereka menganggap tindakan tersebut dapat dijadikan salah satu acuan bagi para anggota kabinet, para pejabat pemerintah untuk tetap memegang teguh prinsipnya.
"Bukan masalah setuju-ndak setuju dengan sikapnya, tapi prinsipnya yang keras itu patut ditiru," bela Hadi (48), salah seorang responden asal Surabaya yang mengaku sebagai pekerja di sebuah pabrik kaleng.
Penuturan Hadi, yang diwawancarai dalam jajak pendapat ini menjadi salah satu jawaban dari sebagian besar responden yang mendukung langkah Ryaas Rasyid (Tabel). Sebagian besar responden mengartikan langkah pengunduran diri ini sebagai wujud profesionalisme. Dalam arti, sepatutnya seseorang menjunjung tinggi prinsipnya, tidak perlu takut untuk berbeda pendapat dengan pemimpinnya walau harus menghadapi risiko turun dari jabatan sekalipun.
Kenyataan juga menunjukkan, tidak semua responden menyambut positif langkah pengunduran diri tersebut. Hampir sepertiga responden tidak menyetujui langkah tersebut. Amasiah (46) misalnya, pegawai tata usaha Pemda Samarinda, menganggap sikap pengunduran diri tersebut cenderung menunjukkan arogansi yang berlebihan atas kemampuannya.
Bahkan yang lebih mengenaskan lagi, seperempat dari jumlah responden melihat sikap pengunduran diri tersebut sebagai gelagat adanya ambisi politik tertentu. Menurut Petrus (52), tindakan itu disebabkan dengan digabungnya bidang otonomi daerah ke dalam urusan Menteri Dalam Negeri, maka tidak ada lagi kekuatan yang dimiliki Ryaas dalam pemerintahan.
BAGAIMANAPUN, munculnya menteri yang berani bersikap tegas untuk mundur menunjukkan bahwa kepemimpinan Gus Dur dalam kabinet tidak berjalan sepenuhnya. Memang, harus diakui bahwa kinerja para menteri belum maksimal selama ini. Sepanjang usia pemerintahan, belum banyak prestasi yang dihasilkan. Dalam bidang ekonomi, kendati pertumbuhan ekonomi dinilai lebih baik dari yang diperkirakan tetap saja beragam kesulitan dihadapi masyarakat. Yang paling nyata, nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing kian terpuruk, mencapai titik terendah selama pemerintahan ini berkuasa.
Pada bidang lainnya, sampai sekarang masyarakat masih was-was dengan situasi keamanan. Merebaknya kasus peledakan rumah-rumah ibadah semakin memperberat beban pemerintah saat ini, khususnya aparat keamanan. Kemudian mengurai sisi hukum, kasus lolosnya Tommy Soeharto dari incaran penjara, dan hingga kini masih buron telah menjadi preseden buruk masih lemahnya kekuatan hukum di negeri ini.
Memandang segenap kinerja yang kurang memadai itu, lebih dari separuh responden sepakat buruknya kinerja kabinet memberikan andil terjadinya berbagai persoalan. Oleh karena itu, mereka berpendapat perlu adanya perombakan kabinet. Kabinet saat ini, dalam anggapan tiga perempat responden tidak lagi memadai.
Kinerja kabinet memang dapat dipersalahkan. Komposisi dan kapabilitas para menteri pun layak digugat. Namun, kenyataan juga menunjukkan bahwa sebagian responden merasa tidak yakin akan kemampuan Presiden dalam mengatur kabinet. Persoalannya, semua bermuara pada corak kepemimpinan Abdurrahman Wahid yang kental dengan nuansa kultural partisipatoris yang mencoba mengembangkan pendekatan yang terlibat langsung. Di satu sisi upaya tersebut dipandang positif.
Namun, dalam praktiknya justru muncul pertentangan. Acap kali kekerasan hati dan ketidakkonsistenan mewarnai berbagai kebijakan. Persoalan semacam inilah yang mewarnai berbagai persoalan mundurnya para menteri. Jadi persoalannya, bukan hanya bermuara pada kinerja kabinet. Sebagai subyek, Presiden sendiri berperan besar terhadap ketidakjelasan program selama ini. Tidaklah mengherankan di kalangan responden muncul sikap pesimis yang berlebihan. "Kepalanya saja seperti itu, bagaimana buntutnya," sesal Dedi (60), seorang responden dari Surabaya. (Tweki Triardianto/Litbang Kompas)
Kamis, 11 Januari 2001
SEMUA BERPULANG PADA ABDURRAHMAN WAHID
Label:
Presiden
Langganan:
Komentar (Atom)